Feeds RSS

Kamis, 03 Juli 2014

INDIGO


Anak-anak Indigo



Anak-anak Indigo telah menjadi fenomena dan kajian dalam 10 tahun terakhir ini. Walau beberapa  pribadi dan  komunitas mulai berupaya mengelola anak-anak indigo di Indonesia, tetapi semuanya masih dilakukan secara ‘sambilan’ dan belum ada yang benar-benar fokus. Mudah-mudahan saduran artikel dari berbagai sumber  ini dapat mendorong dan membuka wawasan untuk berkembangnya anak-anak indigo di Indonesia sesuai dengan bakat dan misi mereka di dunia ini.


Kata indigo sendiri diambil dari nama warna yaitu indigo, yang dikenal sebagai warna biru sampai violet. Orang indigo adalah istilah yang diberikan kepada anak yang menunjukkan perilaku lebih dewasa dibandingkan usianya dan memiliki kemampuan intuisi yang sangat tinggi. Biasanya mereka tidak mau diperlakukan sebagai anak-anak.
gb: sunchildren.ning.com


Anak indigo adalah anak yang memiliki lapangan aura berwarna nila. Cara berpikirnya yang khas, pembawaannya yang tua, membuat anak indigo tampil beda dengan anak sebayanya. Pancaran aura yang dimilikinya membawa kepada suatu karakteristik perilaku unik. Secara fisik anak indigo sama sekali tak berbeda dengan anak lainnya.


Lewat bukunya Understanding Your Life Through Color, Nancy Tappe (1982) membuat klasifikasi manusia berdasarkan warna energi atau cakra. Cakra adalah pintu-pintu khusus dalam tubuh manusia untuk keluar masuknya energi. Pada tubuh manusia terdapat  7 cakra utama, yaitu cakra mahkota ada di puncak kepala, cakra Ajna di antara dua alis, cakra tenggorokan di tenggorokan, cakra jantung di tengah dada, cakra pusar ada di pusar, cakra seks ada pada tulang pelvis, dan cakra dasar ada di tulang ekor.


Anak indigo memiliki keunggulan pada cakra Ajna (the third eyes) yang berkaitan dengan kelenjar hormon hipofisis dan epifisis di otak. Adanya mata ketiga ini membuat anak indigo disebut memiliki indra keenam. Mereka dianggap memiliki kemampuan menggambarkan masa lalu dan masa datang.


Satu hal yang penting dan digaris bawahi, yaitu tidak jarang anak indigo salah diidentifikasi. Mereka sering dianggap sebagai anak LD (Learning Sidability) ataupun anak ADD/HD (Attentian Deficit Disorder/Hyperactivity Disorder). Perbedaannya adalah ketidakajegan munculnya perilaku yang dikeluhkan. Misalnya pada anak indigo, mereka menunjukkan keunggulan pemahaman terhadap aturan-aturan sosial dan penalaran abstrak, tapi tak tampak dalam kesehariannya, baik di sekolah maupun di rumah.




// Terdapat 4 macam anak indigo:
  • Humanis. Tipe ini akan bekerja dengan orang banyak. Kecenderungan karir di masa datang adalah dokter, pengacara, guru, pengusaha, politikus atau pramuniaga. Perilaku menonjol saat ini hiperaktif, sehingga perhatiannya mudah tersebar. Mereka sangat sosial, ramah, dan memiliki pendapat kokoh.
  • Konseptual. Lebih enjoy bekerja sendiri dengan proyek-proyek yang ia ciptakan sendiri. Contoh karir adalah sebagai arsitek, perancang, pilot, astronot, prajurit militer. Perilaku menonjol suka mengontrol perilaku orang lain.
  • Artis. Tipe ini menyukai pekerjaan seni. Perilaku menonjol adalah sensitif, dan kreatif. Mereka mampu menunjukkan minat sekaligus dalam 5 atau 6 bidang seni, namun beranjak remaja minat terfokus hanya pada satu bidang saja yang dikuasai secara baik.
  • Interdimensional. Anak indigo tipe ini di masa datang akan jadi filsuf, pemuka agama. Dalam usia 1 atau 2 tahun, orangtua merasa tidak perlu mengajarkan apapun karena mereka sudah mengetahuinya.
  •  
Mengidentifikasi Anak-anak Indigo
Pendapat tentang anak-anak Indigo tidak terbatas para pakar psikologi dan pada prinsipnya terdapat pandangan yang sama tentang mengapa dan untuk apa anak-anak indigo ini lahir ke dunia.

Sandra Sedgbeer, seorang redaktur dan penerbit majalah: “Anak-anak yang lahir saat ini nampaknya mempunyai lebih banyak “perangkat lunak” yang telah dimasukkan ke sistem mereka. Mereka adalah lompatan evolusioner; mereka menunjukkan pada kita ke mana langkah tujuan kita sebagai spesies. Dan saya yakin bahwa anak-anak ini lahir dengan susunan saraf yang kemampuannya lebih tinggi. Kita semua juga memiliki kemampuan seperti itu, tetapi kita telah kehilangan itu lebih dari ratusan tahun lalu.”

Neale Donald Walsch, pengarang: “Menurut saya, anak-Anak Indigo adalah anak-anak yang kesadarannya berkembang secara dramatis mengenai semua hal yang ada di sekitar mereka, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan.”

Elizabeth Green, pengarang dan dosen: “Mereka memiliki dasar spiritual yang sangat tinggi. Tidak religius, tetapi spiritual…. Mereka mempunyai perasaan yang dapat mengetahui adanya kekuatan yang lebih tinggi.”

Elijah, seorang musisi: “Ada beberapa Indigo yang turun ke planet ini membawa pedang kemauan, pedang kekuatan, untuk memangkas paradigma lama dan menembus ilusi. Ada yang membawa welas asih yang lembut dan ada yang membawa bahasa baru cahaya dan suara…Kenapa para Indigo ke sini? Para Indigo ke sini untuk menjembatani Surga dan Bumi.”

KH Amiruddin Syah dari Institut Kajian Tasawuf: “Az Zukhruf”, Jakarta: “Menurut sejarah, Pancasila disusun oleh anak-anak indigo. Pada abad ke 14 Mpu Prapanca menulis Nagarakartagama. Dalam buku tersebut dituliskan Bhinneka Tunggal Ika yang kemudian disempurnakan oleh Mpu Tantular.  Bhinneka Tunggal Ika  kemudian dipahami sebagai budaya yg berbeda-beda namun tujuannya adalah satu dan agama yang berbeda juga bertujuan satu yakni Allah dan Kehidupan yang baik”.

Dr Tubagus Erwin , Pakar psikologi anak dari Universitas Indonesia (UI) : ” Anak Indigo memang berbeda dengan anak-anak sebayanya. Anak indigo memiliki moto berjiwa dewasa serta mampu membedakan dan menghargai perbedaan. Namun, indigo bukanlah sesuatu penyakit karena tidak termasuk dalam daftar penyakit sedunia yang dikeluarkan WHO. Mereka memiliki kekuatan spiritual yang tidak dimiliki semua orang. Meski demikian, anak indigo bisa sehat dan sakit, baik secara fisik maupun mental. Yang jelas, anak semacam ini memerlukan pendidikan khusus. Semua tergantung interaksi dengan lingkungannya.”
Apakah anak Anda adalah seorang anak Indigo? Ciri-ciri di bawah ini dapat digunakan sebagai patokan awal untuk mengetahui apakah anak Anda berbakat Indigo atau tidak.




Ciri-ciri anak berbakat yang indigo:
  • Memiliki sensitivitas tinggi.
  • Memiliki energi berlebihan untuk mewujudkan rasa ingin tahunya yang berlebihan.
  • Mudah sekali bosan.
  • Menentang otoritas bila tidak berorientasi demokratis.
  • Memiliki gaya belajar tertentu.
  • Mudah frustasi karena banyak ide namun kurang sumber yang dapat membimbingnya.
  • Suka bereksplorasi.
  • Tidak dapat duduk diam kecuali pada objek yang menjadi minatnya.
  • Sangat mudah merasa jatuh kasihan pada orang lain.
  • Mudah menyerah dan terhambat belajar jika di awal kehidupannya mengalami kegagalan.
Menurut Tubagus Erwin, Alumnus Kedokteran Unair 1967 dan seorang pakar Indigo, anak indigo memiliki enam sifat:
  • Tingkat kecerdasan superior. Biasanya IQ-nya di atas 120. Sehingga mereka enggan mengikuti ritual yang tidak rasional dan tidak spiritual.
  • Anak indigo dapat mengerjakan sesuatu tanpa diajarkan terlebih dahulu.
  • Dapat menangkap perasaan, kemauan, atau pikiran orang lain.
  • Dapat mengetahui sesuatu yang tidak dapat dipersepsi oleh pancaindera di masa kini, masa lampau (post-cognition), dan masa depan (pre-cognition).
  • Mengetahui keberadaan makhluk halus.
  • Anak indigo tertarik pada hal-hal yang berkaitan dengan alam dan kemanusiaan


Membesarkan Anak-anak Indigo
Karena  kemampuan khusus yang dimiliki oleh Anak Indigo, mereka menghadirkan tantangan baru bagi orang tua mereka maupun sistem sekolah yang ada saat ini untuk  menemukan cara yang tepat demi membantu dan membimbing mereka. Sistem yang ada saat ini tampaknya tidak memiliki cukup instrumen untuk menyediakan lingkungan yang tepat demi memenuhi kebutuhan mereka. Banyak anak berbakat yang tidak bisa menyesuaikan diri dengan sekolah sehingga mereka dikatakan bermasalah seperti terkena Gangguan Pemusatan Perhatian (Attention Deficit Disorder) atau autisme. Sebenarnya, kemampuan mereka jauh di depan. Kebutuhan mereka lebih banyak. Di samping mengajarkan cara menghafalkan data, banyak pendidik menyatakan bahwa sekolah juga seharusnya mengajarkan anak-anak cara mengambil keputusan, cara makan yang benar, bahkan cara menanam bahan makanan, dan cara untuk bermeditasi. Sekolah semestinya mengusahakan cara-cara untuk memanfaatkan apa yang ada dalam diri anak, membuka kebijaksanaannya yang bersemayam di sana secara alami.

Apa yang harus dilakukan orangtua:
  • Hargai keunikan anak dan hindari kritikan negatif.
  • Jangan pernah mengecilkan anak.
  • Berikan rasa aman, nyaman dan dukungan.
  • Bantu anak untuk berdisiplin.
  • Berikan mereka kebebasan pilihan tentang apapun.
  • Bebaskan anak memilih bidang kegiatan yang menjadi minatnya, karena pada umumnya mereka tidak ingin jadi pengekor.
  • Menjelaskan sejelas-jelasnya (masuk akal) mengapa suatu instruksi diberikan, karena mereka tidak suka patuh pada hal-hal yang dianggap mengada-ada.
  • Jadikan sebagai mitra dalam membesarkan mereka.
Menurut Carol dan Tober, anak-anak Indigo memiliki 10 atribut berikut:
  • They come into the world with a feeling of royalty (and often act like it). [Mereka datang ke dunia dengan rasa ingin berbagi.]
  • They have a feeling of “deserving to be here,” and are surprised when others do not share that. [Mereka menghayati hak keberadaannya di dunia ini dan heran bila ada yang menolaknya.]
  • Self-worth is not a big issue; they often tell the parents “who they are.” [Mereka menganggap bahwa dirinya bukanlah yang utama; seringkali menyampaikan jati dirinya kepada orang tuanya.]
  • They have difficulty with absolute authority (authority without explanation or choice). [Sulit menerima otoritas mutlak tanpa alasan]
  • They simply will not do uncertain things; for example, waiting in line is difficult for them. [Mereka enggan melakukan hal yang tidak pasti, seperti menunggu.]
  • They get frustrated with systems that are ritually oriented and do not require creative thought. [Mereka kecewa bila menghadapi ritual dan hal-hal yang tidak memerlukan pemikiran kreatif.]
  • They often see better ways of doing things, both at home and in school, which makes them seem like “system busters” (non-conforming to any system). [Seringkali mereka menemukan cara-cara yang lebih tepat, baik di sekolah maupun di rumah, sehingga menimbulkan kesan 'non konformistis' terhadap sistem yang berlaku]
  • They seem antisocial unless they are with their own kind. If there are no others of like consciousness around them, they often turn inward, feeling like no other human understands them. School is often extremely difficult for them socially. [Mereka tampak anti sosial dan terasing kecuali berada dalam lingkungan sesama indigo. Sekolah seringkali menjadi amat sulit untuk mereka bersosialisaaasi.]
  • They will not respond to “guilt” discipline. [Mereka tidak akan menanggapi disiplin yang salah.]
  • They are not shy in letting it be known what they need. [Mereka tidak sungkan untuk meminta apa yang dibutuhkannya]
Anak-anak Indigo sebagai pembawa perubahan.
Menurut Gary Zukave, “Kita sedang berada di tengah-tengah besarnya perubahan kesadaran manusia yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dan perubahan pada kesadaran umat manusia ini akan menata ulang apa yang akan dilakukan oleh manusia. Perubahan itu menata ulang jutaan individu dan, menurut saya, dalam beberapa generasi saja, ia akan menata ulang seluruh pengalaman umat manusia. Dan dengan demikian, perubahan itu akan melahirkan anak-anak dalam lingkup persepsi baru yang lebih luas, dan perubahan itu akan memperbesar persepsi mereka yang sedang menjalani kehidupan di dunia ini. Peristiwa besar itu bukanlah kemunculan Anak-Anak Indigo, tetapi kelahiran sebuah dunia Indigo.”

Ciri-ciri Fisik Anak Indigo





Beberapa tulisan dan buku yang membahas mengenai anak Indigo hanya mengemukakan ciri-ciri perilaku dan kejiwaannya saja, dan tidak ada yang secara spesifik menjelaskan ciri-ciri fisiknya. Apakah ciri-ciri fisik anak Indigo itu, yang membedakannya dengan anak-anak pada umumnya, memang ada?
Berbicara mengenai jiwa dan gambaran perubahannya yang muncul pada fisik, pasti sudah banyak orang yang tahu. Bagaimana emosi, seperti marah, sedih, dan gembira akan tergambar pada perubahan raut wajah, atau gerakan bahasa tubuh lainnya.

Emosi yang terjadi secara berulang-ulang dalam jangka waktu yang lama bisa membuat suatu perubahan yang menetap pada roman muka dan tampilan fisik lainnya. Orang yang berkarakter jahat, sebagai contoh, seperti narapidana kambuhan, preman atau orang yang dalam kehidupannya sehari-hari selalu bergelut dengan dunia kejahatan, akan tergambarkan pada wajahnya dengan jelas. Begitu juga dengan orang yang berkarakter baik, seperti orang yang penolong, dermawan, baik hati, wajahnya akan tampak menyenangkan, teduh dan memberikan ketenangan apabila dipandang.

Pemahaman itulah yang digunakan dalam pembuatan karakter tokoh film atau animasi kartun, di mana seorang penjahat divisualisasikan dengan muka yang bengis, sorot mata kejam, jarang tersenyum, sedangkan seorang pemuka agama bermuka bersih bercahaya, seorang penegak hukum dengan wajah tegas, dan lain sebagainya.


Ciri-ciri fisik sejak lahir, anak-anak hingga dewasa
Anak Indigo terlahir dengan jiwa yang tua, atau tingkat kedewasaan dini pada usia sangat muda atau anak-anak. Sebagian anak Indigo bahkan memperlihatkan pertumbuhan jiwa yang luar biasa sejak usia bayi, seperti kemampuan berpikir analitik dalam memahami fungsi benda-benda, menilai karakter orang dewasa, mengungkapkan maksud hatinya kepada orang di sekitarnya, dan lain sebagainya. Pengaruh perkembangan jiwa yang terlalu cepat itu juga tampak pada pertumbuhan fisik seperti gigi yang muncul lebih cepat, dan kemampuan motorik seperti berjalan dan berbicara yang lebih dulu dari bayi pada umumnya.
Karena kemampuan anak Indigo terletak pada kekuatan jiwanya, maka bentuk fisik secara spesifik banyak terdapat di bagian kepalanya. 
Ciri yang khas adalah bentuk kepala yang sedikit agak lebih besar dari bayi atau anak-anak pada umumnya, terutama pada bagian lingkar kepala, dan dahi serta kening yang lebih lebar.
Kuantitas otak anak Indigo biasanya lebih besar disebabkan penggunaannya relatif lebih sering sejak usia dini tadi. Mereka berpikir dan menganalisa setiap apa yang dilihat, didengar atau dirasakannya.
Pelebaran pada lingkar kepala menunjukkan penggunaan kemampuan telepati, pada kening adalah analitik, sedangkan dahi adalah visualisasi dan imajinasi citra-citra supranatural.
Bentuk daun telinga pun mempunyai bentuk yang sedikit lebih keluar dari kepala, memanjang pada bagian ujung atas, dan agak menekuk ke atas pada bagian cuping bawah. Lebih kuatnya “insting reptil” merupakan sebab kemunculan ciri binatang yang tergambar pada bentuk daun telinga ini.
Begitu juga dengan mata, terutama tatapan mata yang sangat tajam dan dalam, dengan bagian pupil atau orang-orangan mata yang lebih besar, sehingga tampak hanya tersisa sedikit ruang untuk warna putih mata. Pandangan mata anak Indigo bertolak belakang dengan pandangan mata anak autis. Kalau anak autis tidak bisa menatap mata orang lain, atau tidak bisa berkonsentrasi pada satu titik dalam waktu yang lama, sedangkan anak Indigo sebaliknya, mereka dengan berani menatap – sambil menganalisa karakter – orang dewasa di depan mereka, dan tingkat konsentrasinya terhadap sesuatu sangat tinggi untuk ukuran mereka. Sedangkan orang-orang mata yang lebih besar menunjukkan kemampuan melihat makhluk gaib dan hal-hal yang tersembunyi lainnya dari dimensi-dimensi lain. Selain itu ada sebagian anak Indigo yang terlahir dengan mata agak sedikit jereng, baik ke tengah – ke arah hidung – atau ke luar.
Susunan gigi-geligi mereka biasanya terlihat rapi dan bagus, dan terasa sangat tajam apabila anda merasakan gigitannya. Pada usia bayi ketika mulai tumbuh satu dua gigi, mereka cenderung melakukan kegiatan gigit-menggigit yang lebih sering dan intensif.

Ada semacam tanda aneh yang mungkin ditemukan pada saat kelahirannya – dan mungkin terbawa sampai usia beberapa tahun. Tanda itu terdapat di dahi, di antara kedua mata, sedikit agak di atasnya. Tanda yang pada sebagian anak Indigo terlihat cukup jelas seperti bekas pukulan yang membekas dalam dengan warna agak gelap samar. Tanda ini seperti “mata ketiga” yang menampakkan dirinya secara fisik.
Demikianlah sedikit pengetahuan saya tentang ciri-ciri fisik anak Indigo, yang mungkin bisa membantu para orang tua dalam mengenali keindigoan pada anak-anak mereka, terutama sejak usia bayi (balita) hingga usia anak-anak. 

Ciri-ciri tersebut di atas bisa saja akan bertahan hingga usia dewasa, namun biasanya akan mengalami penurunan atau peningkatan sesuai perubahan perilaku dan emosi jiwa. Namun secara umum, ukuran kepala yang lebih besar, bentuk daun telinga, dahi dan kening yang lebar, dan tatapan mata akan bertahan hingga usia dewasa.

The Indigo Children ( Anak Indigo)


 THE INDIGO CHILDREN: BAB1

Manusia diciptakan berbeda-beda satu sama lain, oleh karena itu muncul keinginan untuk lebih mengenal diri sendiri dan orang lain. Dorongan tersebut membuat manusia menciptakan berbagai metode pengenalan diri yang sifatnya modern, seperti IQ, EQ, SQ, temperamen Melankolis, Koleris, Phlegmatis, dan Sanguinis. Selain dari metode-metode modern tersebut, manusia rupanya telah mengenal metode-metode pengenalan semacamnya sejak beribu tahun yang lalu, seperti Astrologi, Shio, dan aura. Metode kuno tersebut meskipun dipandang tidak realistis, namun telah diakui sebagai ilmu pengetahuan.

Aura merupakan suatu medan energi yang terdapat di sekeliling tubuh manusia, dengan kata lain aura adalah suatu energi kehidupan manusia. Melalui aura, manusia dapat mengetahui apa saja yang akan mereka pelajari dalam hidupnya. Pengamatan terhadap warna-warna kehidupan secara di era modern dipelopori oleh Nancy Ann Tape yang kemudian dirangkum dalam sebuah buku yang berjudul Understanding Your Life Through Color.  Dalam pengamatannya, Nancy menemukan suatu warna baru pada aura anak-anak yang lahir pada akhir dekade 1970-an hingga dekade 1980.  Warna tersebut adalah Indigo.
Nancy kemudian mengamati bahwa pada diri anak-anak dengan aura Indigo terdapat suatu atribut psikologi baru yang  belum pernah terekam pada generesi-generasi sebelumnya. 


Terdapat sepuluh ciri umum anak-anak Indigo:
1.  Mereka datang ke dunia dengan rasa ingin berbagi;
2.  Mereka menghayati hak keberadaannya di dunia ini dan heran bila ada yang menolaknya;
3.  Dirinya bukanlah yang utama, seringkali menyampaikan ‘siapa jati dirinya’ pada orang tuanya;
4.  Sulit menerima otoritas mutlak tanpa alasan;
5.  Tidak mau/sulit menunggu giliran;
6.  Mereka kecewa bila menghadapi ritual dan hal-hal yang tidak memerlukan pemikiran yang kreatif;
7.  Seringkali mereka menemukan cara-cara yang lebih tepat, baik di sekolah maupun di rumah, sehingga menimbulkan kesan “non konformistis” terhadap sistem yang berlaku;
8.  Tampak seperti antisosial, terasing kecuali di lingkungannya. Sekolah seringkali menjadi amat sulit untuk mereka bersosialisasi;
9.  Tidak berespons terhadap aturan-aturan kaku (misalnya: “tunggu sampai ayahmu pulang”);
10.  Tidak malu untuk meminta apa yang dibutuhkannya.


Namun banyak pula ciri-ciri lain anak Indigo lepas dari sepuluh karakter di atas, seperti bahwa anak Indigo tidak menghargai seseorang berdasarkan uban dan kerut-kerut wajah. Jika mereka diperlakukan secara kasar, anak Indigo akan pergi kepada pihak yang berwajib secara otomatis.  Banyak di antara mereka adalah filsuf yang dilahirkan secara alamiah untuk memikirkan arti kehidupan dan bagaimana cara menyelamatkan planet ini.  Para Indigo mengolah emosi mereka secara berbeda dengan non-Indigo karena mereka memiliki rasa harga diri yang tinggi dan integritas yang kuat.  Mereka bisa membaca orang lain seperti sebuah buku yang terbuka dan dengan cepet mengetahui dan menetralisasi setiap agenda atau usaha tersembunyi untuk memanipulasi mereka, betapa pun halusnya.  Tidak hanya mereka ahli dalam mengetahui agenda atau motif tersembunyi secara intuitif, mereka juga sama ahlinya dalam mengembalikan agenda tersebut kepada orang yang menggunakannya, khususnya orang tua mereka.
Mereka memiliki determinasi bawaan yang kuat untuk mengerjakan segala sesuatu untuk diri mereka sendiri dan hanya menginginkan bimbingan dari orang lain bila itu dikemukakan kepada mereka dengan penghargaan dan dalam format yang sebenarnya.  Mereka bisa mengisap pengetahuan seperti busa, khususnya jika mereka menyukai atau tertarik terhadao suatu persoalan. Para Indigo lahir untuk menjadi master.  Mereka datang untuk melayani planet ini, orangtua mereka, dan teman-teman mereka sebagai utusan dari Surga, pembawa kebijaksanaan bila mereka didengarkan. Mereka mudah terganggu ketika segala sesuatu, terutama percakapan, tidak sinkron.  Mereka senang menjadi spontan dan mudah menjadi sangat gembira tanpa alasan yang jelas.
Anak Indigo, menurut Nancy Ann Tape, terbagi lagi menjadi empat golongan, di antaranya:
  1. Indigo Humanis, yang akan bekerja dengan orang banyak, melayani sesama, dan hiperaktif. Mereka luar biasa suka bergaul dan ramah pada siapa saja. Mereka memiliki pendapat yang sangat kuat. Mereka kikuk dengan tubuh mereka, kadang-kadang mereka dapat berlari menabrak dinding karena lupa mengerem. Mereka cepet beralih perhatian.
  2. Indigo Konseptual, yang teruju kepada proyek daripada manusia. Tubuh mereka tidak kikuk, bahkan kebanyakan sangat atletis. Mereka suka mengendalikan orang lain, terutama orang tua , mereka. Jenis ini memiliki resiko besar terhadap kecanduan.
  3. Indigo Seniman, yang jauh lebih peka. Mereka lebih tertuju pada seni dan sangat kreatif. Jika masuk ke suatu bidang, mereka akan mengambil sisi kreatifnya.
  4. Indigo interdimensional yang akan membawa filosofi dan agama baru ke dunia. Pada umumnya mereka berperawakan lebih besar dari sebayanya dan mereka tahu segalanya, sehingga sukar untuk memberitahu apapun pada mereka.


Anak-anak Indigo juga sering disebut sebagai anak-anak berbakat (gifted), maka tidak heran jika mereka memiliki pula karakteristik anak-anak berbakat:
1.  Memiliki kepekaan yang tinggi.
2.  Memiliki energi berlebih.
3.  Mudah bosan, mungkin tampak seperti memiliki rentang perhatian yang pendek.
4.  Memerlukan orang dewasa yang secara emosional stabil di sekitarnya.
5.  Akan menolak otoritas jika orientasinya tidak demokratis.
6.  Memiliki cara belajar yang lebih disukai, khususnya dalam membaca dan matematika.
7.  Mungkin mudah frustasi karena mereka memiliki gagasan yang besar, namun kekurangan sumber daya atau orang untuk membantu mereka melaksanakan gagasan tersebut agar berhasil.
8.  Belajar dari tingkat eksplorasi, menolak ingatan dengan cara menghafal atau mendengarkan.
9.  Tidak dapat duduk tenang kecuali jika perhatiannya terserap pada hal yang menarik perhatiannya sendiri.
10.  Sangat perasa, memiliki banyak ketakutan seperti kematian dan kehilangan orang yang dicintai.
11.  Bila mengalami kegagalan dini, mereka mungkin menyerah dan mengalami hambatan belajar secara permanen.







Author Buku: Lee Carroll & Jan Tober.
Tahun terbit: 2006
Penerbit di Indonesia: PT Bhuana Ilmu Populer, Kelompok Gramedia (BIP)